PROBOLINGGO,bolinggonews com – Sejak sore hingga larut malam, langit di atas Kota Probolinggo seolah tumpah. Hujan deras yang mengguyur tanpa henti selama hampir sepuluh jam mengubah jalanan menjadi sungai dan ruang tamu menjadi kolam. Memang, kejadian hujan seperti ini menjadi perhatian utama warga kota.
“Air datang begitu cepat. Drainase di depan sudah tidak sanggup lagi menelan debit hujan, ditambah sungai di dekat sini meluap. Akhirnya ya tumpah, masuk semua ke dalam rumah,” ujar Zaka.
Zaka tidak sendirian. Kota Bayuangga sedang berduka di bawah kepungan air. Tercatat, sebanyak 29 kelurahan melaporkan dampak serupa akibat intensitas hujan yang belum mereda.
Mulai dari kawasan pesisir di Mayangan hingga wilayah padat penduduk di Kademangan dan Jati serta kelurahan lainnya, warga terpaksa berjaga sepanjang malam, bertarung dengan air yang terus meninggi. Kejadian luar biasa seperti ini sering kali disebabkan oleh hujan lebat yang berlangsung lama.
Banjir ini bukan sekadar kiriman alam, melainkan akumulasi dari infrastruktur yang kewalahan. Drainase lingkungan yang menyempit dan tersumbat tak lagi mampu beradu cepat dengan intensitas hujan yang ekstrem.
Di balik genangan yang merendam pemukiman, terselip persoalan menahun. Beberapa sungai utama yang membelah Kota Probolinggo diketahui belum tersentuh program normalisasi secara menyeluruh. Dalam situasi hujan deras, masalah ini makin terasa.
Akibatnya, pendangkalan membuat kapasitas tampung sungai menyusut drastis. Saat hujan dengan intensitas tinggi datang, sungai-sungai ini tak lebih dari sekadar saluran yang meluap ke segala arah.
Hingga berita ini diturunkan, warga di beberapa titik masih nampak sibuk membersihkan sisa-sisa lumpur, sembari sesekali menatap langit yang masih mendung berharap sisa hari ini tak lagi membawa kecemasan yang sama. Semua berharap kejadian hujan seperti hari ini tak terulang.
Penulis : id
Editor : Nos
Sumber Berita : Bolinggonews.com












