PROBOLINGGO,Bolinggonews.com – Dendam lama antar-anak memicu aksi amuk brutal di Dusun Asem Kerep, Desa Pohsangit Leres, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo.
Empat orang perempuan nekat melabrak dan mengeroyok seorang ibu rumah tangga, Sayama (37), hingga babak belur pada Senin (16/2/2026) siang.
Aksi anarkis ini tidak hanya menyasar Sayama. Niti Tiryo, ibu kandung Sayama yang sudah lanjut usia, juga menjadi korban. Niti menderita luka sabetan celurit pada jari telunjuknya saat berusaha melerai keributan di teras rumah mereka.
Peristiwa mencekam tersebut bermula sekitar pukul 12.30 WIB. Saat itu, Sayama sedang sibuk memilin tali tambang usaha milik kakaknya.
Suasana tenang mendadak pecah ketika dua perempuan berinisial Ri dan Yua mendatangi rumahnya dan langsung melancarkan serangan tanpa basa-basi.
“Mereka langsung menarik baju dan kerudung saya sampai kancing baju lepas,” tutur Sayama.
Keempat pelaku menyerang secara brutal mereka mencakar wajah, menjambak rambut, dan menghujani tubuh Sayama dengan pukulan.
Sayama mengaku sempat sesak napas setelah hantaman keras mengenai dadanya. Dalam kondisi terdesak, ia hanya bisa menangkis serangan para pelaku dengan tangan kosong.
Mendengar keributan, Niti bergegas keluar rumah untuk memisahkan anaknya dari kepungan pelaku. Namun, situasi justru semakin tak terkendali.
Ri diduga mengayunkan celurit hingga melukai jari Niti. Tak lama kemudian, dua pelaku lainnya datang dan ikut mengeroyok korban.
“Mereka mendorong ibu saya sampai jatuh. Setelah adik saya datang membantu, mereka langsung melarikan diri,” ungkapnya.
Sayama menduga motif penyerangan ini berakar dari perselisihan lama antara anaknya dan anak salah satu pelaku.
Cemoohan melalui telepon setahun lalu rupanya menyisakan bara dendam. Pelaku menuduh anak Sayama berselingkuh dan turut menghina pribadi Sayama.
“Mereka menuduh saya macam-macam. Meski saya janda, saya tetap punya harga diri dan prinsip agama,” tegas Sayama.
Padahal, Sayama menganggap persoalan itu sudah selesai karena anaknya kini telah menikah dan menetap di Paiton. Namun, pihak lawan rupanya masih menyimpan luka lama yang berujung pada aksi kekerasan ini.
Kecewa atas penganiayaan yang menimpa dirinya dan sang ibu, Sayama memutuskan untuk menempuh jalur hukum.
Ia berencana melaporkan kasus ini ke Polres Probolinggo Kota dalam waktu dekat.
“Saya tidak terima ibu saya sampai terkena sabetan celurit. Ini sudah keterlaluan,” cetusnya.
Aparat dari Polres Probolinggo Kota bersama Polsek Sumberasih telah mendatangi lokasi kejadian untuk meminta keterangan saksi serta menyelidiki dugaan kasus penganiayaan tersebut.
Sementara itu, Kepala Desa Pohsangit Leres, Salam, mengonfirmasi bahwa pihaknya sempat berupaya memediasi kedua belah pihak. Namun, pihak korban tetap memilih jalur hukum sebagai penyelesaian.
“Kami sudah mencoba mendamaikan mereka, tetapi korban tetap tidak terima. Kami menghormati keputusan tersebut dan akan membantu proses pelaporannya,” pungkas Salam.
Penulis : id
Editor : Nos
Sumber Berita : Bolinggonews.com












