PROBOLINGGO,Bolinggonews.com – Di tengah keresahan masyarakat akibat melonjaknya harga cabai di pasaran, rona bahagia terpancar dari wajah para petani Kelompok Tani Lestari Jaya, Kota Probolinggo. Panen cabe menjadi perhatian utama bagi para petani tahun ini.
Pada Jumat (13/3), hamparan lahan pertanian di Jalan Priksan, Kebonsari Kulon, tampak ramai saat memasuki masa panen raya. Selain itu, momen ini menjadi momen penting bagi para petani Cabe.
Kehadiran Wali Kota Probolinggo, dr. Aminuddin, menambah semangat para petani siang itu, terutama bagi mereka yang sedang menanam dan memanen Cabe.
Didampingi jajaran asisten, staf ahli, serta kepala OPD terkait, dr. Aminuddin turun langsung ke lahan untuk memetik cabai bersama. Ia juga ikut merayakan keberhasilan panen Cabe.
Kegiatan ini juga dihadiri oleh Satgas Pangan dan perwakilan Bank Indonesia (BI) sebagai bentuk dukungan nyata pemerintah terhadap ketahanan pangan daerah. Terutama, hal ini penting khususnya dalam menjaga produksi Cabe.
Hasan Prasojo, selaku pemilik lahan, berbagi ilmu dan pengalaman suksesnya kepada sekitar 20 petani yang datang dari berbagai sudut kota, termasuk strategi untuk membudidayakan Cabe secara optimal.
Pertemuan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat strategi budidaya demi menjaga stabilitas pasokan cabai di Kota Probolinggo. Selain itu, hal ini juga berdampak pada keberlanjutan panen Cabe di wilayah tersebut.
Sebagai bentuk dukungan, Pemerintah Kota Probolinggo memberikan stimulan berupa pupuk nonsubsidi NPK Ponska 25 kg dan urea 5 kg kepada para petani untuk dipraktikkan di lahan masing-masing agar hasil panen Cabe semakin maksimal.
Selain itu, para petani akan mendapatkan pengawasan serta pendampingan rutin dari tenaga penyuluh lapangan yang berpengalaman dalam budidaya Cabe.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKPPP) Kota Probolinggo, Fitriawati, menjelaskan bahwa proses tanam di lahan tersebut telah dimulai sejak Oktober lalu bersama para petani Cabe.
Ia menyebutkan bahwa Kelompok Tani Lestari Jaya kini juga berfungsi sebagai wadah pelatihan swadaya bagi Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) di wilayah Kebonsari, termasuk memberi edukasi budidaya Cabe.
“Panen cabai rawit ini menggunakan sistem tumpangsari dengan jagung serta sistem irigasi tetes. Dalam waktu dekat, akan dilakukan penanaman kembali Cabe di lahan berbeda dalam satu area.
Sistem ini merupakan inovasi satu-satunya yang diterapkan kelompok tani di sini, terutama dalam menghasilkan panen Cabe yang berkelanjutan,” jelas Fitriawati.
Hasilnya pun sangat menjanjikan. Dengan modal sekitar Rp13 juta, kelompok tani tersebut telah melakukan 10 kali panen. Total pendapatan mencapai Rp45 juta dari penjualan Cabe.
Upaya ini diharapkan mampu menjaga ketersediaan stok dan menstabilkan harga di tingkat konsumen. Selain itu, langkah ini dapat menekan inflasi pangan, khususnya terkait produksi Cabe.
Wali Kota dr. Aminuddin menegaskan bahwa teknologi irigasi tetes terbukti lebih efisien dalam penggunaan pupuk dan mampu memberikan hasil maksimal untuk tanaman Cabe.
“Dengan menerapkan teknologi irigasi tetes dan sistem tumpangsari, pemanfaatan lahan menjadi lebih optimal untuk budidaya Cabe.
Inovasi seperti ini menunjukkan bahwa pertanian modern tidak lagi hanya bergantung pada cara konvensional, tetapi memerlukan manajemen usaha tani Cabe yang lebih baik,” ujar dr. Aminuddin.
Ia berharap metode ini dapat menjadi percontohan bagi kelurahan lain di Kota Probolinggo. Alasannya, modalnya relatif kecil namun menghasilkan keuntungan besar dari produk Cabe.
Selain pengembangan sektor hortikultura, dr. Aminuddin juga melihat potensi diversifikasi usaha di lahan tersebut, seperti ternak burung puyuh yang memiliki nilai ekonomi menjanjikan bersama hasil pertanian Cabe.
Penulis : id
Editor : Nos
Sumber Berita : Bolinggonews.com












