JAKARTA,Bolinggonews.com – Menjelang perhelatan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang dijadwalkan pada Juli atau Agustus 2026 mendatang. Peta persaingan calon pemimpin tertinggi PBNU mulai terbaca.
Institut Nahdliyin Nusantara (Insantara) baru saja merilis hasil survei nasional bertajuk “Calon Ketua Umum PBNU 2026-2031 Pilihan Pengurus dan Warga NU”.
Survei yang dilakukan secara daring pada periode 20 Februari hingga 15 Maret 2026 ini bertujuan untuk memetakan kandidat potensial. Selain itu, survei ini juga bertujuan menangkap isu-isu mendesak yang harus diselesaikan organisasi menjelang Muktamar.
Dalam simulasi semi-terbuka yang melibatkan 14 nama tokoh besar, responden diajukan pertanyaan kunci: “Jika Muktamar NU diadakan sekarang ini, siapa yang akan Anda pilih sebagai Ketua Umum PBNU?
“Hasilnya menunjukkan dinamika yang menarik. Nama KH Imam Jazuli menempati posisi teratas dengan perolehan elektabilitas sebesar 26,1%.
Ia mengungguli tokoh-tokoh senior lainnya seperti KH Marzuqi Mustamar yang meraih 22,6%, dan KH Yusuf Chudlori dengan 17%.
Sementara itu, petahana KH Yahya Cholil Staquf berada di posisi keempat dengan 9,8%, disusul oleh KH Zulfa Mustofa (4,6%) dan KH Abdussalam Shohib (4,2%).
Nama-nama tokoh nasional lain turut menghiasi bursa, di antaranya:
Prof. KH Nasaruddin Umar (4,0%)
KH Saifullah Yusuf (3,6%)
H. Nusron Wahid (2,1%)
Prof. KH Nuh DEA (1,9%)
KH Abd Ghaffar Rozin (1,3%)
KH Juhadi Muhammad (1,3%)
KH Abd Hakim Mahfudz (1,3%)
Tingginya elektabilitas KH Imam Jazuli disinyalir kuat merupakan cerminan dari keinginan warga NU akan perubahan.
Data Insantara menunjukkan bahwa sekitar 80% responden merasa kurang puas atau menganggap kepemimpinan PBNU periode saat ini belum memenuhi ekspektasi.
Sosok yang akrab disapa Kiai Imjaz ini dinilai mampu menyuarakan kegelisahan warga terkait kemelut di internal organisasi.
Selain itu, gagasannya mengenai peta jalan (roadmap) NU di abad kedua dianggap sebagai visi yang segar. Gagasan tersebut juga dianggap relevan bagi generasi muda Nahdliyin.
“Kiai Imam Jazuli dianggap sebagai representasi tokoh muda pesantren yang paling potensial untuk menggantikan Gus Yahya dalam suksesi kepemimpinan di Muktamar ke-35 nanti,” tulis rilis resmi Insantara.
Survei ini melibatkan 5.900 responden yang mewakili unsur pengurus dan warga NU di berbagai wilayah.
Menggunakan metode multistage random sampling, penelitian ini memiliki margin of error sekitar ±3% pada tingkat kepercayaan 95%.
Angka-angka ini memberikan gambaran nyata bahwa dinamika di akar rumput NU tengah bergerak menuju babak baru kepemimpinan.
Penulis : id
Editor : Nos
Sumber Berita : Berbagai sumber / YT












