Bukan Sekedar Mitos, di Era Digital Ribuan Orang Masih Memburu Pesugihan di Gunung Kawi

- Jurnalis

Senin, 6 Juli 2026 - 21:13 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto : Gambar Ilustrasi Gunung Kawi

Foto : Gambar Ilustrasi Gunung Kawi

PROBOLINGGO,Bolinggonews.com – Dibalik gemerlap kemajuan zaman, sebuah kawasan di Jawa Timur tetap kokoh berdiri sebagai pusat mistis yang paling disegani di Indonesia.

Gunung Kawi bukan sekadar nama, melainkan simbol dari sebuah pencarian manusia yang tak berujung: pesugihan. Di balik kabut yang menyelimuti lerengnya, tersimpan ribuan kisah tentang mereka yang datang membawa harapan, namun pulang dengan konsekuensi yang tak jarang membuat bulu kuduk berdiri.

Pesona di Balik Kabut Pekat

Perjalanan menuju keraton Gunung Kawi bukanlah perjalanan biasa. Saat kabut tebal turun, jarak pandang seolah menghilang, menciptakan suasana mencekam yang seakan menjadi “gerbang” pemisah antara dunia nyata dan dunia lain.

Bagi banyak orang, tempat ini adalah destinasi terakhir saat logika manusia buntu dalam mencari jalan keluar ekonomi.

Bang Brew, seorang konten kreator yang mendalami sisi mistis, menuturkan pengalamannya. “Vibes-nya jauh lebih horor saat kunjungan kedua. Mobil harus menyalakan lampu, namun tetap saja tidak terlihat apa-apa. Kiri dan kanan hanya jurang,” ujarnya.

Ritual dan “Jual Beli” Harapan

Di balik keramaian pengunjung, ada fakta yang sering membuat banyak orang mengelus dada. Tempat ini bukan lagi sekadar situs sejarah atau budaya, melainkan pusat permohonan instan. Mulai dari urusan harta, jabatan, hingga jodoh.

Salah satu kuncen di sana, Pak Narko, dengan terbuka menceritakan fenomena ini. Banyak pengunjung datang membawa foto orang yang dicintai untuk di-pelet, atau para pengusaha yang menginginkan usahanya melesat berkali-kali lipat.

Baca Juga :  Pelaku Curanmor di Kota Probolinggo Berhasil Dibekuk Polisi

Yang paling mencolok, fenomena ini justru lebih banyak diminati oleh masyarakat dari luar daerah, seperti Jabodetabek, dibandingkan warga lokal.

Menariknya, terdapat lima tempat ibadah dari lima agama besar di kawasan tersebut. Namun, kuncen menegaskan bahwa tempat ibadah tersebut murni untuk beribadah. Ritual pesugihan dilakukan di titik-titik petilasan, altar, dan gua-gua yang tersebar di area keraton.

Konsekuensi di Balik Berkah

Ritual yang dilakukan konon melibatkan “pengiriman doa” atau “ngalap berkah” melalui kuncen, hingga pemberian tanah keramat yang harus disimpan di atas pintu rumah. Prosesnya pun panjang, biasanya dilakukan selama tujuh kali kunjungan pada hari-hari tertentu, seperti Kliwon atau Legi.

Namun, di balik iming-iming kekayaan, tersimpan ancaman nyata. Pak Narko secara tersirat mengungkapkan adanya konsekuensi berat jika seseorang melanggar nazar atau janji yang telah diucapkan di depan makam atau petilasan.

“Akan celaka, Mas. Entah menimpa keluarga atau karyawan,” ucapnya. Kisah tentang perusahaan yang karyawannya meninggal secara tragis setelah melakukan ritual menjadi pengingat kelam bahwa “pesugihan” bukanlah sekadar mitos tanpa bayaran.

Menembus Hening yang Mencekam

Pengalaman mencekam pun dirasakan saat mencoba menyendiri di dalam ruang keraton. Aroma wangi yang pekat bercampur dengan aura yang membuat bulu kuduk meremang seketika.

Baca Juga :  Proyek Tol Probowangi, CV Tulus dan PT SBK Berikan CSR Kepada Masyarakat Probolinggo

Di balik tirai-tirai yang tertutup, tersimpan benda-benda yang memicu kengerian, seperti patung sepasang manusia hingga kain putih yang menyerupai bentuk pocong.

“Pas gua buka hordeng, jujur sih gua kayak takut banget,” ungkapnya.

Di malam hari, suasana berubah total. Orang-orang yang tadinya ramah saat berpapasan di siang hari, seolah berubah menjadi sosok asing yang dingin. Bahkan, kamera yang digunakan sempat menangkap deteksi wajah di ruang kosong sebuah fenomena yang sulit dijelaskan dengan logika.

Antara Dosa Jariyah dan Realita

Fenomena Gunung Kawi hingga saat ini masih menjadi perdebatan panjang. Di satu sisi, ada mereka yang percaya sebagai jalan spiritual, namun di sisi lain, banyak pihak menyayangkan ketergantungan masyarakat terhadap jalan pintas yang bersifat “dosa jariyah”.

Kehadiran pengunjung yang terus membeludak, bahkan setelah viral di media sosial, menunjukkan bahwa selama manusia masih memimpikan jalan pintas menuju kesuksesan, selama itu pula kabut Gunung Kawi akan terus menyimpan misterinya.

Sebuah peringatan bagi kita semua: bahwa di balik setiap keberhasilan yang tidak masuk akal, selalu ada harga yang harus dibayar, entah itu berupa pengabdian atau nyawa.

Penulis : Id

Editor : Farid

Sumber Berita : Yt Lentera malam

Berita Terkait

Deteksi Dini Gangguan Kamtib, Rutan Kraksaan Geledah Kamar Hunian Warga Binaan
Sidang tim pengamat pemasyarakatan (TPP) Langkah Awal Usulkan Hak Integrasi Warga Binaan
Wali Kota Probolinggo Ingatkan Lansia Tak Hentikan Obat Sembarangan saat Kunjungi Panti Wreda
HUT ke-667 Probolinggo: Sinergi Eksekutif-Legislatif dan Misi Pemerataan Pembangunan
Ribuan Warga Jrebeng Lor Padati Bing Dejeh Carnival 2026
Hari Jadi ke-667 Kota Probolinggo: Meneguhkan Arah Pembangunan Menuju Kota Bersolek
DPRD dan Pemkot Probolinggo Setujui Raperda Perubahan APBD TA 2026
Tanamkan Disiplin dan Tanggung Jawab Karutan Kraksaan Beri Penguatan Warga Binaan

Berita Terkait

Kamis, 10 September 2026 - 15:31 WIB

Deteksi Dini Gangguan Kamtib, Rutan Kraksaan Geledah Kamar Hunian Warga Binaan

Selasa, 8 September 2026 - 14:46 WIB

Sidang tim pengamat pemasyarakatan (TPP) Langkah Awal Usulkan Hak Integrasi Warga Binaan

Selasa, 8 September 2026 - 13:08 WIB

Wali Kota Probolinggo Ingatkan Lansia Tak Hentikan Obat Sembarangan saat Kunjungi Panti Wreda

Senin, 7 September 2026 - 19:28 WIB

HUT ke-667 Probolinggo: Sinergi Eksekutif-Legislatif dan Misi Pemerataan Pembangunan

Minggu, 6 September 2026 - 23:15 WIB

Ribuan Warga Jrebeng Lor Padati Bing Dejeh Carnival 2026

Berita Terbaru