PROBOLINGGO – Pendidikan Islam dihadapkan pada tantangan yang semakin kompleks di era digital. Madrasah tidak hanya dituntut mencetak peserta didik berprestasi secara akademik, tetapi juga membentuk generasi yang berakhlak, terbuka terhadap perkembangan zaman, dan memiliki karakter kuat.
Persoalan tersebut menjadi perhatian Anggota Komisi VIII DPR RI, Dini Rahmania, dalam kegiatan Ngopi (Ngobrol Pendidikan Islam) di Desa Sumberkare, Kecamatan Wonomerto, Kabupaten Probolinggo.
Mengusung tema “Anak Madrasah Zaman Sekarang, Islami, Terbuka, dan Berkarakter”, kegiatan kolaborasi Kementerian Agama dan DPR RI itu menjadi forum dialog untuk membahas tantangan pendidikan Islam sekaligus menyerap aspirasi masyarakat terkait peningkatan kualitas madrasah.
Dalam kesempatan tersebut, Dini juga menyoroti usulan tambahan anggaran Kementerian Agama untuk tahun 2027 sebesar Rp41,8 triliun, di luar pagu indikatif sekitar Rp87 triliun.
Tambahan anggaran tersebut direncanakan untuk mendukung sejumlah program prioritas, di antaranya bantuan pendidikan melalui Program Indonesia Pintar (PIP), rehabilitasi madrasah, digitalisasi ruang kelas, hingga peningkatan kesejahteraan guru.
Menurut Dini, dukungan anggaran menjadi salah satu aspek penting dalam memperkuat penyelenggaraan pendidikan Islam. Namun, peningkatan kualitas pendidikan juga harus diiringi dengan perhatian terhadap pembentukan karakter peserta didik.
“Anak madrasah tidak hanya harus kuat dalam nilai-nilai agama, tetapi juga terbuka terhadap perkembangan zaman dan memiliki karakter yang baik,” jelasnya.
Ia menekankan, pendidikan madrasah perlu dikembangkan secara menyeluruh agar peserta didik tidak hanya menguasai ilmu pengetahuan dan nilai-nilai keislaman, tetapi juga mampu beradaptasi dengan perubahan sosial serta perkembangan teknologi.
Keluarga Dinilai Punya Peran Penting
Selain dukungan pemerintah dan lembaga pendidikan, keterlibatan keluarga menjadi salah satu faktor penting dalam membentuk karakter anak.
Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN KHAS Jember, Abdul Muiz, menilai perkembangan teknologi digital menghadirkan tantangan tersendiri bagi dunia pendidikan, terutama ketika penggunaan gawai dan media sosial tidak diimbangi pendampingan yang memadai.
Kemudahan mengakses informasi, menurutnya, perlu disertai pembiasaan belajar, kedisiplinan, serta penanaman nilai-nilai moral sejak dini.
Pendidikan karakter tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada sekolah maupun pesantren. Keluarga merupakan lingkungan pertama bagi anak untuk belajar mengenal nilai kehidupan, membangun kebiasaan, dan meniru perilaku orang-orang di sekitarnya.
Prinsip al-ummu madrasatul ula, yang bermakna ibu adalah madrasah pertama bagi anak, menjadi pengingat pentingnya keteladanan orang tua dalam proses pendidikan.
Sikap, pola komunikasi, kedisiplinan, hingga kebiasaan orang tua dalam menggunakan teknologi dapat memengaruhi perilaku anak.
Di tengah maraknya penggunaan WhatsApp, Instagram, Facebook, dan TikTok, orang tua dinilai perlu memberikan contoh penggunaan teknologi secara bijak.
Pengaturan waktu penggunaan gawai, pengawasan aktivitas digital, serta pendampingan belajar menjadi bagian dari upaya menciptakan lingkungan keluarga yang mendukung perkembangan anak.
Abdul Muiz juga menekankan pentingnya sinergi antara keluarga, guru, dan pesantren agar pendidikan karakter berlangsung secara berkesinambungan.
Menurutnya, pendidikan agama dan penguasaan ilmu pengetahuan harus berjalan beriringan. Dengan demikian, peserta didik diharapkan mampu menghadapi perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai keislaman.
Gerakan Sadar Nikah Turut Dibahas
Forum Ngopi tersebut juga membahas edukasi pencegahan pernikahan dini melalui Gerakan Sadar Nikah.
Pembahasan ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya kesiapan dalam membangun rumah tangga serta perlunya pendampingan terhadap generasi muda.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Pengasuh Pondok Pesantren Darus Solihin, Kiai Zainul Mustofa, Ahmad Barokki, serta sejumlah tamu undangan.
Melalui forum tersebut, penguatan pendidikan Islam diharapkan menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintah, lembaga pendidikan, keluarga, dan masyarakat.
Dukungan kebijakan dan anggaran pemerintah menjadi salah satu unsur penting dalam meningkatkan akses serta mutu pendidikan. Sementara itu, keteladanan keluarga dan lingkungan pendidikan berperan dalam membentuk karakter peserta didik.
Sinergi berbagai pihak tersebut diharapkan dapat mendorong madrasah di Kabupaten Probolinggo melahirkan generasi yang Islami, berwawasan terbuka, berakhlak baik, serta mampu menghadapi tantangan perkembangan zaman.
Penulis : Id
Editor : Farid
Sumber Berita : Bolinggonews












