Asal- usul dan Filosofi Lahirnya Kerapan Sapi Madura Jawa Timur

- Jurnalis

Senin, 29 Desember 2025 - 22:56 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Probolinggo,bolinggonews.com – Kerapan Sapi kini dikenal sebagai atraksi wisata kelas dunia, namun di balik debu lintasan pacu, tersimpan sejarah panjang yang berakar dari tradisi agraris dan syiar agama pada abad ke-14.

Tradisi ini bukan sekadar perlombaan kecepatan, melainkan warisan budaya yang membawa nilai-nilai filosofis mendalam bagi masyarakat Madura.

Asal-usul kata “Kerapan” memiliki beberapa interpretasi yang menarik. Secara bahasa, kata ini diyakini berasal dari istilah lokal kerap atau kirap, yang berarti : berangkat dan dilepas secara bersama-sama atau berbondong-bondong.

Hal ini merujuk pada kerumunan petani yang memacu sapinya saat menggarap sawah.

Di sisi lain, terdapat anggapan bahwa kata tersebut berasal dari bahasa Arab, yaitu kirabah, yang berarti persahabatan.

Pengertian ini mempertegas bahwa meskipun kompetisi berlangsung sengit di arena, tujuan utamanya adalah mempererat tali silaturahmi antar-pemilik ternak dan masyarakat.

Salah satu catatan sejarah yang paling kuat menyebutkan peran Kiai Pratanu pada abad ke-14. Beliau menggunakan kerapan sapi sebagai media dakwah untuk menyebarkan ajaran Islam di Madura.

Baca Juga :  Khofifah Pimpin Ribuan Relawan Bersihkan Sungai Legundi dalam Peringatan World Cleanup Day 2025

Kiai Pratanu menyisipkan pesan filosofis dalam penataan posisi sapi:

Sapi Kanan (Pangluar) dan Sapi Kiri (Panglima) harus berlari secara seimbang. Filosofi ini mengajarkan bahwa untuk mencapai tujuan, manusia harus menjaga keseimbangan dalam hidup agar tetap berjalan lurus di jalan yang benar.

Jika salah satu sapi mendominasi atau tidak seimbang, maka laju kereta (keles) akan melenceng dari lintasan.

Baca juga : Warga Kota Probolinggo Antusias Ikuti Rangkaian Budaya Belah Jimat

Sejarah lain juga merujuk pada masa pemerintahan Panembahan Blongi di Pulau Sapudi. Sebagai penguasa yang berjasa mengembangkan sektor peternakan dan pertanian, ia memperkenalkan teknik mengolah lahan menggunakan tenaga sapi secara lebih efisien.

Keberhasilan panen yang melimpah memicu para petani untuk berlomba-lomba menyelesaikan pekerjaan di sawah mereka.

Kegembiraan dalam bekerja ini secara alami berubah menjadi ajang adu cepat atau olahraga yang kemudian dikenal sebagai Kerapan Sapi.

Baca Juga :  DLH Kota Probolinggo Gelar FGD, Dorong Wisata Mata Air Berbasis Lingkungan

Keberhasilan di sektor pertanian inilah yang menjadi fondasi awal mengapa sapi begitu dihormati dan dibanggakan oleh masyarakat Madura hingga saat ini.

Meskipun lahir dari aktivitas pertanian dan dakwah, Kerapan Sapi berevolusi menjadi sebuah institusi budaya yang kompleks.

Dari sekadar adu cepat di lahan basah, kini beralih ke stadion atau lapangan skep dengan aturan yang ketat.

Berbagai kasta perlombaan, mulai dari tingkat desa (Kerapan Keni) hingga Piala Presiden, menunjukkan betapa struktur sejarah ini tetap terjaga.

Unsur-unsur seperti Tukang Tongko (joki) dan iringan musik Saronen menjadi pelengkap yang menyatukan unsur olahraga, seni, dan sejarah dalam satu arena.

Hingga kini, Kerapan Sapi tetap berdiri tegak sebagai identitas yang mengingatkan masyarakat Madura akan akar sejarah mereka, sebuah perpaduan antara kerja keras petani, kebijakan para ulama, dan semangat persahabatan yang tak luntur oleh zaman.

Penulis : Id

Editor : Nos

Sumber Berita : Berbagai sumber

Berita Terkait

Polisi Turun ke Lahan Jagung 6.000 Meter Persegi di Tongas, Pastikan Pertanian Berjalan Baik
Ditinggal Jogging, Motor Listrik Dikunci Ganda Raib di Alun-alun Probolinggo
Nelayan Tenggelam, Polres Probolinggo Bersama Tim Gabungan Lakukan Pencarian
Tekan Penggunaan Gadget, Puluhan Anak Ikuti Probolinggo Pushbike di GOR Mastrip
Polres Probolinggo Kota Beri Penghargaan ke 10 Personel Berprestasi
260 Pesilat Muda Ikuti Walikota Cup IX Probolinggo, KONI Siapkan Atlet Menuju Porprov
Rutan Kraksaan Perbarui 100 Koleksi Buku Demi Genjot Minat Baca Warga Binaan
Viral Jual Beli Bansos, Dinsos Probolinggo Beri Respon Tegas

Berita Terkait

Senin, 5 Oktober 2026 - 09:35 WIB

Polisi Turun ke Lahan Jagung 6.000 Meter Persegi di Tongas, Pastikan Pertanian Berjalan Baik

Minggu, 4 Oktober 2026 - 16:27 WIB

Ditinggal Jogging, Motor Listrik Dikunci Ganda Raib di Alun-alun Probolinggo

Jumat, 2 Oktober 2026 - 18:22 WIB

Nelayan Tenggelam, Polres Probolinggo Bersama Tim Gabungan Lakukan Pencarian

Kamis, 1 Oktober 2026 - 19:53 WIB

Tekan Penggunaan Gadget, Puluhan Anak Ikuti Probolinggo Pushbike di GOR Mastrip

Senin, 28 September 2026 - 13:03 WIB

Polres Probolinggo Kota Beri Penghargaan ke 10 Personel Berprestasi

Berita Terbaru