Jelang Idul Adha, Pengusaha Tusuk Sate di Probolinggo Kalah Saing dengan Musim Layangan

- Jurnalis

Sabtu, 16 Mei 2026 - 18:58 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

PROBOLINGGO,Bolinggonews.com – Perayaan Hari Raya Idul Adha yang biasanya menjadi ladang rezeki melimpah bagi para perajin dan pengusaha tusuk sate, kini dirasa berbeda.

Di tahun ini, peningkatan permintaan tusuk sate atau biting dinilai tidak terlalu signifikan. Ini terjadi akibat melemahnya kondisi ekonomi nasional yang berdampak langsung pada daya beli masyarakat.

As’ad, salah seorang pengusaha tusuk sate asal kota Probolinggo saat ditemui di jalan Periksan, kelurahan Kebonsari wetan mengungkapkan bahwa meski ada kenaikan pesanan menjelang hari raya kurban, grafik penjualan tahun ini merosot tajam jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

“Kalau menghadapi Iduladha memang ada peningkatan dari tahun ke tahun. Cuma untuk tahun sekarang ini naiknya tidak begitu menonjol. Istilahnya, ekonomi masyarakat lagi lemah, jadi daya beli berkurang,” ujar As’ad.

Padahal menurut As’ad, momen Iduladha adalah waktu di mana hampir setiap rumah tangga membutuhkan tusuk sate secara mandiri untuk mengolah daging kurban, bukan hanya para pedagang sate keliling.

Namun, lesunya kondisi pasar tradisional di tingkat kota maupun kabupaten saat ini membuat pasokan barangnya ikut tersendat.

Jika pada kondisi normal As’ad mampu mengirimkan 1,2 hingga 1,3 ton tusuk sate per minggu untuk memenuhi pasar lokal dan pengiriman ke Bali, kini ia mengaku hanya bisa mengirim sekitar 7,5 kuintal saja per minggu, atau turun hingga di bawah 50 persen.

Baca Juga :  Muscab PKB Kota Probolinggo: Tiga Nama Muncul, Saiful Iman Siap Perintah

Frekuensi pengambilan barang yang biasanya dilakukan dua kali seminggu, kini terpangkas menjadi hanya satu kali.

Selain faktor daya beli yang lesu, para pengusaha tusuk sate di Jawa Timur saat ini juga harus menghadapi kelangkaan bahan baku biting (lidi bambu).

Kelangkaan ini terjadi karena para perajin bambu di beberapa daerah seperti Pasuruan, Malang, dan Probolinggo Timur mengalihkan produksinya untuk membuat rangka layang-layang.

Kebetulan, menjelang Iduladha tahun ini bersamaan dengan datangnya musim layangan. Bagi para perajin bambu, membuat rangka layangan jauh lebih menguntungkan secara finansial dibanding membuat sujen (tusuk sate) kiloan.

“Bahan bitingnya kurang karena crash (berbenturan) dengan pembuatan layang-layang yang harganya lebih mahal. Bayangkan, modal dua biting ditambah kertas bisa jadi layangan yang bernilai jual seribu rupiah.

Sementara kalau sujen, satu kilonya hanya dihargai Rp6.500 di tingkat perajin,” jelas As’ad. Bahkan, ia menambahkan selentingan bahwa saking ramainya pesanan layangan, ada pengepul yang sampai bisa membeli mobil mewah.

Baca Juga :  Pengendalian Penyakit Tanaman Tembakau di Desa Tamansari, Probolinggo

Hal lain yang menjadi keluhan mendalam bagi As’ad dan para pelaku usaha serupa di Jawa Timur adalah harga jual tusuk sate yang stagnan alias jalan di tempat selama lebih dari 15 tahun.

Saat ini, harga tusuk sate kambing di tingkat pengepul masih bertahan di kisaran Rp10.000 hingga Rp12.000 per kilogram.

Kondisi ini dianggap tidak adil dan tidak seimbang bagi para perajin dan pengusaha mikro.

Sebab, dalam kurun waktu 15 tahun terakhir, harga bahan baku bambu gelondongan sudah naik berkali-kali lipat dari Rp8.000 menjadi Rp25.000 per batang.

Begitu pula dengan harga plastik kemasan dan harga satu porsi sate di warung-warung yang terus merangkak naik.

As’ad menyayangkan tidak adanya kekompakan di antara sesama pengusaha tusuk sate di wilayah Jawa Timur untuk menyesuaikan harga, berbeda dengan wilayah Jawa Tengah atau Jawa Barat yang lebih terorganisasi.

“Di Jawa Timur ini tidak kompak. Begitu ada yang mau menaikkan harga, ada pemain baru yang justru menurunkan harga agar barangnya bisa laku dan menyerobot pasar.

Akhirnya harga nasionalnya standar terus, tidak merosot tapi ya tidak bisa naik,” pungkasnya.

Penulis : Id

Editor : Nos

Sumber Berita : Bolinggonews.com

Berita Terkait

Nelayan Tenggelam, Polres Probolinggo Bersama Tim Gabungan Lakukan Pencarian
Polres Probolinggo Kota Beri Penghargaan ke 10 Personel Berprestasi
260 Pesilat Muda Ikuti Walikota Cup IX Probolinggo, KONI Siapkan Atlet Menuju Porprov
Rutan Kraksaan Perbarui 100 Koleksi Buku Demi Genjot Minat Baca Warga Binaan
Sosialisasi Cukai Tembakau dan Rokok Ilegal Sasar RT/RW dan Tomas di Probolinggo
Viral Jual Beli Bansos, Dinsos Probolinggo Beri Respon Tegas
Sinergi Ulama dan Umara: Pengukuhan Pengurus MUI Se-Kota Probolinggo Masa Khidmat 2026–2031
Perkuat Sinergitas, DPC PPP Kota Probolinggo Gelar Audiensi dengan Wali Kota dr. Aminudin

Berita Terkait

Jumat, 2 Oktober 2026 - 18:22 WIB

Nelayan Tenggelam, Polres Probolinggo Bersama Tim Gabungan Lakukan Pencarian

Minggu, 27 September 2026 - 10:22 WIB

260 Pesilat Muda Ikuti Walikota Cup IX Probolinggo, KONI Siapkan Atlet Menuju Porprov

Sabtu, 26 September 2026 - 11:35 WIB

Rutan Kraksaan Perbarui 100 Koleksi Buku Demi Genjot Minat Baca Warga Binaan

Kamis, 24 September 2026 - 19:40 WIB

Sosialisasi Cukai Tembakau dan Rokok Ilegal Sasar RT/RW dan Tomas di Probolinggo

Selasa, 22 September 2026 - 12:38 WIB

Viral Jual Beli Bansos, Dinsos Probolinggo Beri Respon Tegas

Berita Terbaru

Hukum

Maling Satroni Kandang, Dua Sapi di Probolinggo Raib

Selasa, 29 Sep 2026 - 10:33 WIB