PROBOLINGGO,Bolinggonews.com – Walikota Probolinggo menegaskan bahwa Pemerintah Kota Probolinggo menegaskan komitmen kuatnya dalam menggenjot kualitas pelayanan kesehatan masyarakat melalui peningkatan fasilitas menuju standar tipe B tersier.
Langkah strategis ini dinilai krusial tidak hanya untuk mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD), tetapi juga untuk memastikan warga mendapatkan layanan medis mutakhir di dalam kota sendiri. Peran Walikota Probolinggo sangat penting dalam mewujudkan upaya ini.
Wali Kota Probolinggo, dr. H. Aminuddin, Sp.OG., Subsp.K.Obginsos., M.Kes., menyatakan bahwa arah pengembangan fasilitas kesehatan ke depan harus disesuaikan dengan regulasi Permenkes Nomor 6 Tahun 2026. Rabu (06/08/25).
Dengan standar tersebut, pelayanan kesehatan di Kota Probolinggo diproyeksikan untuk naik tingkat dan bersaing secara regional. Selain itu, Walikota Probolinggo ingin memberi dampak nyata bagi masyarakat melalui program kesehatan.
“Ke depan kita ini bukan lagi bersaing dengan Wonolangan, dengan apa namanya, Wonojati, kita sudah harus bersaing dengan Jember paling enggak.
Tipe B itu apa? Diagnostiknya sudah yang tersier,” ujar dr. Aminuddin.
Sebagai bentuk konkret dari visi tersebut, pemerintah daerah tengah memproses pengadaan alat diagnostik canggih seperti Magnetic Resonance Imaging (MRI) dengan estimasi anggaran sekitar Rp5 miliar hingga Rp6 miliar, baik melalui skema Kerja Sama Operasional (KSO) maupun pengadaan mandiri.
Selain itu, layanan kateterisasi jantung serta pusat spesialisasi radiologi juga dipersiapkan secara matang menyusul pengiriman tenaga medis untuk menempuh pendidikan subspesialis.
Wali Kota Aminuddin juga menyoroti pentingnya efisiensi anggaran melalui rencana penggabungan (merger) Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) antara RSUD dr. Mohamad Saleh dan fasilitas kesehatan di Ar Rozy.
Melalui pengelolaan manajemen yang disatukan, efisiensi anggaran belanja diyakini mampu menghemat hingga sekitar Rp50 miliar.
Dana efisiensi tersebut nantinya dapat dialokasikan sepenuhnya untuk pengadaan alat-alat kesehatan berteknologi tinggi.
“Kalau itu nanti bisa kita satukan, maka 50 miliar ini kita fokus pada pembelian alat kayak MRI cuma 5 miliar, kemudian alat-alat teknologi terkini yang tujuannya untuk peningkatan kualitas pelayanan tersier,” jelasnya.
Ke depan, Ar Rozy dirancang untuk dikembangkan menjadi pusat penanganan trauma serta pusat penyakit dalam. Perlu diketahui, Walikota Probolinggo memantau langsung proses pengembangan tersebut.
Dengan pembenahan infrastruktur dan peningkatan fasilitas diagnostik tercanggih yang ditargetkan rampung pada 2027, Wali Kota berharap fasilitas kesehatan di Kota Probolinggo dapat menjadi pusat rujukan regional yang paripurna.
“Prinsipnya nanti, tidak ada lagi pasien dari kota ini yang dirujuk ke Surabaya atau ke Malang. Harus selesai di sini,” pungkas dr. Aminuddin.
Singkatnya, seluruh kebijakan ini merupakan bukti komitmen Walikota Probolinggo bagi kesehatan masyarakat.
Penulis : Nos
Editor : Farid
Sumber Berita : Bolinggonews.com












