Malang, Bolinggonews.com – Di balik nama besar Bentoel Biru yang sempat merajai pasar kretek Indonesia, tersimpan kisah legendaris yang menghubungkan dunia bisnis dengan spiritualitas lokal. Rokok bentoel biru memiliki daya tarik tersendiri yang membedakannya dari produk rokok lain.
Bukan sekadar strategi pemasaran modern, titik balik kesuksesan perusahaan asal Malang ini bermula dari sebuah ziarah dan mimpi di kawasan keramat Gunung Kawi pada pertengahan abad ke-20.
Pendiri pabrik, Ong Hok Liong, awalnya merupakan pengusaha yang kerap dirundung kegagalan. Sebelum tahun 1950-an, ia telah mencoba peruntungan dengan berbagai merek seperti Kelabang, Lampu, Turki,hingga Jeruk Manis, namun semuanya layu di pasaran.
Sebagai sosok yang memegang teguh tradisi, Ong kemudian memutuskan untuk melakukan ziarah ke makam-makam keramat di daerah Gunung Kawi demi mencari petunjuk bagi keberlangsungan usahanya yang kala itu hampir kolaps.
Dalam buku Bandit Saints of Java karya George Quinn, dikisahkan bahwa saat tengah berziarah pada tahun 1954, Ong tertidur di dekat makam dan bermimpi melihat ubi talas. Penasaran dengan bunga tidurnya, ia berkonsultasi dengan juru kunci makam setempat.
Sang juru kunci mengartikan mimpi tersebut sebagai petunjuk agar Ong segera mengganti nama pabriknya. Berpegang pada keyakinan tersebut, Ong mengubah nama perusahaannya menjadi PT Perusahaan Rokok Cap Bentoel—diambil dari sebutan Jawa untuk ubi talas.
Keputusan yang lahir dari peristiwa di Gunung Kawi itu terbukti menjadi magnet keberuntungan yang luar biasa. Pasca pergantian nama, bisnis Ong berkembang pesat hingga mampu menyerap ribuan karyawan.
Bentoel Biru tidak lagi hanya menjadi industri rumahan yang dijajakan secara sederhana, melainkan tumbuh menjadi salah satu pabrik rokok pribumi terbesar dan paling disegani di Indonesia.
Kejayaan ini membawa Bentoel Biru menjadi pionir yang mendahului zaman. Perusahaan ini mencatat sejarah sebagai produsen pertama di tanah air yang meluncurkan Sigaret Kretek Mesin (SKM) berfilter.
Tidak hanya inovasi pada isi, Bentoel Biru juga menjadi revolusioner dengan memperkenalkan penggunaan plastik sebagai pembungkus luar kemasan, sebuah standar estetika dan kualitas yang kemudian diikuti oleh seluruh raksasa industri rokok nasional.
Namun, perjalanan yang diawali dari petunjuk spiritual itu harus menghadapi realitas ekonomi yang keras di kemudian hari. Ambisi perusahaan untuk melakukan otomatisasi pabrik secara total di era Orde Baru justru berbenturan dengan kebijakan pemerintah yang mengutamakan industri padat karya.
Investasi besar pada mesin-mesin canggih yang dibeli melalui pinjaman luar negeri akhirnya menjadi beban utang yang sangat berat bagi perusahaan.
Meskipun sempat menjadi simbol kemajuan industri nasional dan sangat populer di era 1980-an, beban finansial yang membengkak memaksa keluarga pendiri melepas kepemilikan mereka.
Setelah melewati berbagai transisi manajemen, termasuk akuisisi oleh raksasa global British American Tobacco (BAT), sosok Bentoel Biru yang lahir dari mimpi di Gunung Kawi itu kini perlahan memudar dari peredaran.
Kisahnya kini menjadi catatan sejarah tentang bagaimana sebuah petunjuk dari tempat keramat mampu membangun kekaisaran bisnis yang mengubah wajah industri kretek Indonesia.
Penulis : Id
Editor : Nos
Sumber Berita : Berbagai sumber












