PROBOLINGGO,Bolinggonews.com – Penemuan tablet kutukan di situs arkeologi Tel Lachish, Israel, baru-baru ini kembali membuka diskursus tentang praktik kuno yang hingga kini masih hidup dalam bayang-bayang masyarakat modern ilmu pelet.
Artefak tanah liat dari abad ke-7 SM tersebut menyimpan mantra mengerikan yang ditulis oleh seorang wanita untuk membalas dendam kepada kekasihnya yang berselingkuh.
Temuan ini menjadi bukti sejarah bahwa kecemburuan, kemarahan, dan keinginan untuk mengendalikan orang lain melalui cara-cara non-rasional bukanlah hal baru, melainkan emosi universal yang telah ada selama ribuan tahun.
Jika tablet kuno tersebut berfokus pada kutukan destruktif yang mengharapkan penderitaan atau kematian target, praktik pelet di Indonesia memiliki wajah yang lebih beragam.
Di Nusantara, pelet tidak hanya dipandang sebagai alat balas dendam, tetapi sering kali disalahgunakan sebagai jalan pintas untuk meraih asmara atau menundukkan seseorang agar patuh.
Dinamika ini memperlihatkan bahwa meskipun zaman telah berubah, ketergantungan manusia pada praktik supranatural untuk memulihkan kontrol atas hidup mereka tetap bertahan di tengah perkembangan teknologi.
Praktik pelet di Indonesia sering kali dibungkus dengan ritual yang melibatkan media fisik sebagai perantara, mulai dari penggunaan foto target, helai rambut, pakaian, hingga penggunaan minyak wangi khusus yang dianggap memiliki daya pikat.
Kekuatan utama dari praktik ini biasanya terletak pada pengulangan mantra di waktu-waktu tertentu, yang digabungkan dengan sugesti psikologis yang sangat kuat.
Berbeda dengan tablet kutukan yang bersifat menghukum, pelet di tanah air cenderung bersifat subordinatif, di mana pengirimnya menginginkan target untuk jatuh cinta, tunduk secara emosional, atau bahkan merasa ketergantungan kepada sang pengirim.
Secara sosiologis, fenomena ini mencerminkan mekanisme pertahanan diri bagi individu yang merasa tidak memiliki kekuatan dalam hubungan mereka.
Ketika seseorang mengalami penolakan atau merasa kehilangan kendali atas orang yang dicintai, pelet sering kali dianggap sebagai instrumen terakhir untuk memulihkan rasa percaya diri yang hancur.
Sayangnya, kepercayaan kolektif yang kuat terhadap hal-hal mistis ini sering kali dieksploitasi oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab.
Di era digital saat ini, banyak klaim dukun pelet di media sosial yang justru berakhir menjadi modus penipuan finansial, di mana korban yang sedang dalam keadaan emosional rentan diperas demi janji-janji manis yang tidak terbukti secara empiris.
Sebagai masyarakat modern, penting untuk menempatkan fenomena ini dalam perspektif yang lebih kritis.
Apa yang sering disebut sebagai kekuatan pelet di tengah masyarakat, dalam kacamata psikologi sering kali merupakan manifestasi dari obsesi atau gangguan perilaku yang memerlukan penanganan medis, bukan spiritual.
Media memiliki peran besar untuk tidak sekadar mempopulerkan aspek klenik, tetapi juga mengedukasi masyarakat agar lebih bijak dalam menghadapi persoalan asmara.
Penemuan tablet kutukan di Israel menjadi pengingat sejarah yang menarik, namun alangkah bijaknya jika kita memandang kecemburuan dan amarah bukan sebagai alasan untuk berpaling pada praktik gaib, melainkan sebagai sisi manusiawi yang harus dikelola dengan rasionalitas dan kedewasaan emosional.
Penulis : Id
Editor : Nos
Sumber Berita : Bolinggonews.com












