Bolinggonews – Sebuah perjalanan panjang dimulai dari sebuah rental mobil sederhana di Bandung.
Abah Jafar, sang pemilik rental sekaligus pengemudi, tidak pernah menyangka bahwa pesanan perjalanan menuju Malang, Jawa Timur, akan membawanya saksi mata pada sisi gelap ambisi manusia.
Penyewa hari itu adalah seorang wanita bernama Ibu Ani (nama samaran). Sebagai seorang janda yang berjuang membesarkan anak-anaknya, ia mengelola sebuah toko sembako kecil yang ia impikan menjadi grosir besar.
Namun, persaingan bisnis yang ketat membuatnya merasa terdesak.
“Waktu itu saya hanya tahu tujuannya ke Jawa Timur. Saya pikir mau silaturahmi ke keluarga,” kenang Abah Jafar.
Namun, sepanjang perjalanan, firasat Abah mulai tidak enak. Suasana hening dan ketegangan yang menyelimuti Ibu Ani seolah memberi sinyal bahwa ada misi besar yang sedang ia bawa.
Setibanya di Gunung Kawi saat waktu Magrib menyapa, barulah semuanya terungkap. Ibu Ani bukan datang untuk berwisata, melainkan untuk menjalani ritual penglarisan.
Abah Jafar, yang secara tidak sengaja memiliki kepekaan batin, mulai melihat pemandangan yang tidak tertangkap mata orang awam.
“Di pintu rumah kuncen, saya melihat sosok tinggi besar, hitam, dengan mata cokelat yang menakutkan mengintip ke dalam.
Di sampingnya, ada sosok kecil berpakaian putih seperti anak perempuan yang terus memperhatikan kami,” ujar Abah.
Di tengah malam yang buta, tepat pukul 12, ritual dimulai. Ibu Ani diwajibkan mandi dan menghadap Eyang Jugo, penguasa gaib di sana.
Abah yang setia mendampingi melihat fenomena aneh sesajen kambing yang tidak terlihat mata lahir, serta penampakan makhluk-makhluk menyerupai babi hutan di sekitar lokasi ritual.
Ibu Ani mengaku bahwa ia tidak gentar meski diperlihatkan berbagai penampakan menyeramkan mulai dari pocong hingga sosok raksasa.
“Saya sudah bulat. Mau mati di sini pun saya tidak peduli, yang penting usaha saya maju,”* ucapnya kala itu.
Sekembalinya dari Gunung Kawi, Ibu Ani membawa buah tangan misterius kantong merah bertuliskan aksara kanji dan kantong kuning serta dupa yang harus dibakar secara berkala di tokonya.
Setahun berlalu, janji gaib itu tampak menjadi nyata. Toko Ibu Ani berubah menjadi grosir raksasa yang selalu dipadati pembeli nonstop.
Ia memiliki mobil mewah, dan anak-anaknya berhasil menempuh pendidikan tinggi hingga sukses. Namun, di balik kemilau harta itu, Abah Jafar merasakan aura yang mencekam saat berkunjung ke rumahnya.
Bau dupa menyengat, dan sosok-sosok gaib terlihat berlalu-lalang di sudut-sudut rumah mewahnya.
Abah Jafar sempat bertanya langsung kepada sang Kuncen mengenai risiko ritual tersebut. Jawaban sang Kuncen sangat dingin.
“Untuk penglarisan ini, tidak ada tumbal orang lain, kecuali diri sendiri. Nyawanya akan diambil sesuai perjanjian.
Setiap enam bulan sekali, Ibu Ani harus kembali ke Gunung Kawi untuk mengecas energinya, membawa sesajen dan uang dalam jumlah besar. Namun, kontrak dengan kegelapan tidak pernah berakhir bahagia.
Beberapa tahun kemudian, kabar duka datang. Ibu Ani meninggal dunia.
Sebelum menghembuskan napas terakhir, ia dikabarkan mengalami kondisi yang memprihatinkan ia tampak sangat renta melebihi usianya, linglung, dan kehilangan kesadaran seperti orang pikun yang menderita.
Setelah kepergiannya, grosir besar yang dahulu sangat jaya perlahan sepi dan akhirnya tutup.
Anak-anaknya memilih jalur karier masing-masing dan tidak ada yang meneruskan bisnis tersebut. Kejayaan yang dibangun di atas perjanjian gaib itu sirna seiring dengan nyawa sang pemilik.
Melalui kisah ini, Abah Jafar memberikan pesan mendalam bagi siapa saja yang tergiur dengan jalan pintas.
“Tidak ada pesugihan yang putih. Semuanya berujung pada penyesalan. Hiduplah apa adanya, berusahalah dengan jujur.
Jangan pernah mencampuradukkan yang hak dan yang batil, karena pada akhirnya, kita semua akan kembali tanpa membawa apa-apa selain amal perbuatan,” pungkasnya.
Penulis : Id
Editor : Nos
Sumber Berita : Yt @ Malam Mencekam











